"I'll never look back, i've got no regrets 'cause time doesn't wait for me, i choose to go my own way"

Rabu, Maret 11, 2009

Kudeta Terencana Di Balik "Misteri" Supersemar

Benar sekali kata orang bijak : dalam hidup harus pandai-pandai membuat sejarah, kalau tidak, maka bersiap-siaplah untuk ditelan sejarah. Tetapi bagaimana jika ‘sejarah’ yang menelan sejarah itu sendiri? Barangkali pertanyaan ini yang patut diajukan, ketika kita kembali mau membongkar misteri sejarah di balik lahirnya Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret). Sebuah dokumen penting yang ikut membentuk sejarah bangsa Indonesia. Sayang, surat itu sampai saat ini tidak diketahui rimbanya. Dokumen sejarah yang hilang bersama jalannya sejarah bangsa Indonesia yang sarat misteri, terutama rezim Orde Baru.

Surat perintah yang lahir pada 11 Maret 1966 itu, sampai kini terus dipertanyakan dan diselidiki keberadaannya. Sebab, surat itu menyangkut peristiwa pengalihan kekuasaan pemerintahan dari Presiden Soekarno kepada Mayor Jenderal Soeharto. Yang kita ketahui kemudian, Soeharto betul-betul memanfaatkan surat itu dan menjadi presiden menggantikan Soekarno.

Tetapi persoalannya, apakah betul surat itu merupakan surat yang isinya pengalihan kekuasaan? Ataukah hanya mandat sementara untuk mengendalikan situasi, yang saat itu sedang dalam masa kritis? Sulit memberikan jawaban yang benar dan pasti, sebab sampai saat ini naskah asli tidak diketahui berada di mana. Yang diketahui orang hanya naskah salinan, konon tidak sama dengan aslinya.

Usaha mencari naskah asli pernah dilakukan, antara lain di era Menteri Sekretaris Negara Moerdiono. Lembaga Arsip Nasional juga pernah berupaya mendapatkan kejelasan mengenai surat ini. Bahkan, lembaga ini berkali-kali meminta kepada Jenderal (Purn) M. Jusuf, sebagai saksi sejarah terakhir agar bersedia menjelaskan yang sebenarnya terjadi. Namun selalu gagal, hingga akhirnya ia pun menutup usia pada 8 September 2004.

Lembaga ini pun sempat meminta bantuan Muladi, yang ketika itu menjabat Mensesneg. Jusuf Kalla dan M Saelan, pernah meminta DPR untuk memanggil M Jusuf. Tetapi sayang, sampai sekarang, usaha Lembaga Arsip Nasional itu tidak pernah terwujud dan berakhir hampa.

Tentu saja pencarian selanjutnya akan tambah mengalami kesulitan, karena saksinya telah punah ditelan sejarahnya sendiri. Satu-satunya saksi kunci yang masih ada adalah mantan Presiden RI Soeharto. Namun, penyakit stroke dan sakit permanent kerusakan otak yang dideritanya pada usia lanjut saat ini, membuat mantan presiden itu kesulitan mengingat kembali peristiwa lampau. Ia tak bisa lagi berkomunikasi dengan baik. Kita tidak akan bisa menggali informasi dari memorinya yang buntu. Surat ini akan semakin menjadi misteri.

Dr. Asvi Warman Adam, sejarawan LIPI, pernah berkomentar, sejarah bangsa Indonesia seringkali penuh kontroversi. Kontroversi ini disebabkan fakta dan interpretasi yang tidak tepat; tidak lengkap; tidak jelas.

Menurut ia, Supersemar merupakan tonggak sejarah paling penting rezim Soeharto. Namun, tidak tepat kalau dikatakan, surat itu diberikan Presiden Soekarno tanpa tekanan psikologis. Meskipun tanpa todongan senjata, tetapi surat itu dibuat oleh Soekarno di bawah tekanan tiga perwira tinggi (M Jusuf, Amir Machmud, Basuki Rahmat) yang disuruh Soeharto.

Seperti diketahui, Mayor Jenderal Soeharto mengutus tiga perwira tinggi (AD) tersebut menemui Presiden Soekarno di Istana Bogor. Mereka melakukan pembicaraan dengan Presiden Soekarno hingga pukul 20.30. Ketiga perwira itu menyatakan, Mayjend Soeharto mampu mengendalikan situasi dan memulihkan keamanan bila diberikan surat tugas atau surat kuasa yang memberikan kewenangan kepadanya untuk mengambil tindakan. Surat itulah yang konon dikenal dengan ‘Supersemar’.

Dalam catatan sejarah, pasca Supersemar, Soeharto segera mengambil tindakan atas nama Pemimpin Besar Revolusi. Seperti menyatakan terlarangnya PKI dan organisasi massanya, membuat kabinet baru ‘Kabinet Dwikora’, membatasi penyiaran RRI dan TVRI supaya setiap informasi harus atas persetujuan Kepala Pusat Penerangan Angkatan Darat, mengangkat AH Nasution sebagai Panglima Komando Ganyang Malaysia (Kogam).

Tindakan itu sangat cepat. Dirumuskan pada malam 11 Maret, begitu surat diterima dari Bung Karno. Keesokan harinya 12 Maret 1966 pukul 01.00, surat itu tiba di Jakarta yang dibawa Sekretaris Markas Besar AD Brigjen Budiono. Terjadilah pembubaran itu. Tetapi di sisi lain sejarah juga mencatat, Soekarno menolat tuntutan agar PKI dibubarkan. Peristiwa ini pun menimbulkan tanda tanya besar yang serba absurd. Lagi-lagi Supersemar penuh misteri.

Itu salah satu kekaburan sejarah Supersemar yang sampai saat ini tidak jelas apa isinya. Lain lagi ketidakjelasan yang menyangkut tentang proses lahirnya, konon terjadi saling todong pistol antara pengawal presiden Letnan Satu (Lettu) Sukardjo Wilardjito dengan Brigjen M Pangabean dan Brigjen Basuki Rahmat yang menodongkan pistol kearah Presiden Soekarno untuk menandatangani surat yang dipersiapkan sebelumnya.

Belum lagi menyangkut apa yang sebenarnya terjadi saat itu? Siapa konseptor yang sebenarnya? Siapa saja yang terlibat di dalamnya? Siapa pengetik naskah itu?.

Mencermati ketidakjelasan itu, tentu saja kita akan terus bertanya-tanya, apakah surat itu memang surat pengalihan kekuasaan atau hanya surat mandat biasa untuk memberikan tugas sepertin halnya pimpinan kepada bawahan? Atau, jangan-jangan surat itu merupakan salah satu strategi jitu Soeharto yang memanfaatkan situasi untuk melakukan kudeta?


Rilis ulang tulisan dari Fathor Rahman Usman (15 Maret 2006)

5 komentar:

rezaldo mengatakan...

memang penyiar radio harus tau tentang sejarah...

gusti mengatakan...

@ Aldo, hehehehe.. untung aja dulu waktu pelajaran sejarah di sekolah dpt nilai tertinggi tiap kali ujian.. heheheh...

angkara mengatakan...

hal yang meggelitik sebenarnya,
katakan bila sebuah keluarga kehilangan kartu keluarga-nya.
bagaimana bingung nya?
ini negara!!!

simpelnya, wacana pro dan kontra tentang super semar sudah dari dulu kita dengar, tapi tentang keberadaan nya, semua nihil.

saksi kunci yang saat itu coba di konfirmasi oleh pihak arsip nasional adalah M. Yusuf, tapi tak tahu kenapa, intinya antara yang bersangkutan dan pihak arsip nasional tidak menemui titik temu.

padahal, supersemar adalah satu titik dimana segala pelencengan sejarah bermula.

menurut saya, yang notabene adalah manusia biasa (jadi mohon maaf kalau ada yang kurang berkenan), supersemar yang disebut2 berbeda dari versi yang selama ini kita ketahui, adalah berisi tentang "batu pertama peletakan kesekuritian nasional indonesia".

dimana kesekuritian itu sendiri berisi 3 hal penting, yaitu:
-aset perbendaharaan negara
-aset non blok, dan
-dana revolusi.

bentuk supersemar yang saya maksud itu warnanya kemerah-merahan seper uang pecahan 100.000, ada juga garis vertikal hologram nya.

itu yang sementara ini bisa saya sampaikan.

sekali lagi mohon maaf yang sebesar-besarnya, mengenai siapa pemegang supersemar tersebut, dan dari mana saya mendapatkan informasi tersebut, saya siap di konfirmasi,
silahkan email saya di:
angkarabimasakti@gmail.com

atau sebaliknya, jika saya dikatakan orang gila, juga tidak apa apa,

karena waktu yang maha membuktikan.

salam.

Dasman Djamaluddin mengatakan...

NASKAH ASLI SUPERSEMAR DITEMUKAN ?

Oleh Dasman Djamaluddin

“Presiden Punya Informasi tentang Naskah Asli Supersemar,’ itulah salah satu lead berita yang saya baca.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono katanya memiliki informasi tentang keberadaan naskah asli Surat perintah 11 Maret yang ditandatangani Presiden Soekarno pada 11 Maret 1966. Bahkan Presiden sudah meminta Arsip Nasional menindaklanjuti benar atau tidaknya informasi tersebut.

Sejauh ini generasi muda bangsa masih mendambakan ditemukannya surat asli tersebut.Sejak 11 Maret 1966, naskah asli Supersemar hilang. Di tengah-tengah masyarakat sudah beredar berbagai versi Supersemar. Sudah tentu yang beredar itu naskah palsu, karena yang asli belum ditemukan. Membingungkan, karena naskah aslinya tidak juga ditemukan. Untunglah pencarian naskah asli Supersemar tetap dilaksanakan. Buktinya Presiden RI sekarang punya informasi tentang itu.

Diakui bahwa sudah muncul rasa “bosan”, jika seseorang mendengar naskah asli Supersemar. Apa betul naskahnya bisa diperoleh ? Sebagai contoh, kebosanan itu telah merasuki pola berpikir para intelektual kita dalam Seminar Nasional dan Diskusi Interaktif “Implikasi Wafatnya Soeharto terhadap Kebenaran Sejarah Supersemar,” pada Selasa, 25 Maret 2008 di Fakultas Hukum Universitas YARSI, Jakarta.

Selain saya sebagai pembicara (Penulis Buku:”Jenderal TNI Anumerta Basoeki Rachmat dan Supersemar”/Direktur Eksekutif Lembaga Pengkajian Sejarah Supersemar/LPSS), hadir pula Dr.Anhar Gonggong (Sejarawan), Atmadji Sumarkidjo (Penulis buku:”Jenderal M.Jusuf Panglima para Prajurit”) dan Abdul Kadir Besar (Sekretaris Umum MPRS 1966). Terlihat sangat jelas ada ‘kebosanan’ berbicara tentang naskah asli Supersemar. Bahkan Anhar Gonggong dan Atmadji Sumarkidjo mengatakan, naskah asli adalah bagian masa lalu, oleh karena itu naskah asli Supersemar tidak perlu dicari). Tetapi saya di dalam makalah :”Supersemar, Sumber Sejarah yang Hilang,” tetap bertahan bahwa naskah asli Supersemar harus ditemukan, demi generasi pewaris bangsa ini ( makalah lengkap ada di http://dasmandj.blogspot.com).

innu murty mengatakan...

Apabila memang sudah menjadi benang kusut,alangkah lebih bijaksananya bila kitaputuskan saja untuk memperoleh ujung yng baru..
maksud saya, apabila masalah ini memang sudah tidak terpecahkan lebih baik kita memikirkan dan melakukan hal2 untuk masa datang.karena masih banyak yang harus dibenahi di negara kita ini. semoga ini bisa jadi pertimbangan bagi negarawan2 dan pemimpin2 yg saat ini menanggung beban moril untuk lebih memajukan Indonesia.

Poskan Komentar

Apabila komentar tidak dapat dimunculkan, cobalah sekali lagi.. & Bijaksanalah dalam meninggalkan pesan... ^_^

 
Manchester United Community